Inliers

A boy and his box, off to see the universe.

Stuff  Shots  Writings  

"Membuka" Pendidikan Tinggi Kita

Pendidikan tinggi sampai saat ini masih menjadi tantangan bagi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Data BPS di tahun 2013 menunjukkan bahwa angka partisipasi murni (APM) di tingkat perguruan tinggi masih di kisaran 18 persen, artinya dari 100 orang berusia 19-24 tahun, hanya 18 orang yang berada di perguruan tinggi; padahal angka partisipasi di tingkat SMA sudah mencapai 53%, bahkan 95% untuk tingkat SD.[1] Indonesia masih jauh tertinggal dari Thailand dan Malaysia yang angka partisipasinya masing-masing telah mencapai 45% dan 35%.[2]

Banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan angka partisipasi ini, mulai dari bantuan biaya pendidikan, peningkatan kapasitas perguruan tinggi, sampai pembentukan perguruan tinggi baru; tetapi ada satu lagi yang layak mendapat perhatian lebih: pendidikan terbuka (open education).

Pendidikan terbuka pada dasarnya merupakan sebuah konsep untuk memperluas akses terhadap pendidikan dengan meniadakan kendala tempat, waktu, dan aspek lain dalam pendidikan konvensional. Dalam penerapannya, pendidikan terbuka seringkali dikaitkan dengan pendidikan jarak jauh (distance learning); dan di Indonesia kedua konsep ini digabungkan dalam Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh (PTTJJ).[3] Salah satu penyelenggara PTTJJ adalah Universitas Terbuka, yang di tahun 2014 saja memiliki lebih dari 4.000 mahasiswa di seluruh Indonesia.[4]

Pendidikan terbuka adalah konsep yang sangat menarik untuk diterapkan dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Indonesia membentang sejauh lima ribu kilometer dari Sabang sampai Merauke, dengan jumlah penduduk di angka seperempat milar; sulit -kalau bukan mustahil, untuk merancang pendidikan tinggi konvensional yang mampu mewadahi seluruh penduduknya. Dengan pendidikan terbuka (dalam hal ini PTTJJ), masalah daya tampung dapat diatasi, sebab dengan sistem ini ruang kelas dan bangunan fisik tidak lagi dibutuhkan; dan persoalan daya serap yang seringkali terjadi karena rasio mahasiswa-dosen yang besar tidak akan terjadi, karena mahasiswanya cukup belajar dari layar seorang diri.

"Membuka" Pendidikan Tinggi Kita

Di negara maju, pendidikan terbuka kini dikenal dengan nama Massive Open Online Course (MOOC). Kata masif (massive) dalam nama ini bukan tidak beralasan; Coursera (coursera.org), salah satu penyelenggara MOOC yang dibuka pada januari 2012 telah mencapai 1,5 juta pengguna hanya dalam sebelas bulan.[4] Coursera bukan satu satunya, ada Udacity (udacity.com), edX (edx.org) dan nama-nama lain. MOOC juga menggunakan konten dari nama-nama besar seperti Harvard, Stanford, bahkan korporasi seperti Google dan Microsoft. Tidak salah jika The New York Times menyebut 2012 sebagai “The year of the MOOC”.[4]

Introduction to Udacity -salah satu penyedia MOOC

Dari sinilah Indonesia harus berkaca; Pendidikan terbuka adalah potensi besar bagi negara ini jika dikelola dengan baik. Banyak hal memang yang harus dibenahi untuk mengoptimalkan model pendidikan ini, salah satunya mungkin dengan melibatkan perguruan-perguruan tinggi terbaik Indonesia dan korporasi untuk merancang dan menyediakan konten pendidikan terbuka. Jika kelas-kelas online dari ITB, UGM, dan UI ada dalam satu atap, atau jika ada kursus pengembangan android online dengan sertifikasi Google, siapa yang tidak mau?`

Perusahaan penyedia layanan telekomunikasi dan internet juga harus dilibatkan; salah satu faktor masifnya pendidikan terbuka di luar negeri adalah layanan internet yang mumpuni. Saat ini Indonesia masih berada di peringkat kedua terbawah dalam hal koneksi internet di kawasan Asia Pasifik, mau tidak mau ini harus dibenahi. Pertanyaan Menkominfo Tifatul Sembiring, “Buat apa internet cepat?"[5] harusnya sudah terjawab lunas.

Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik

Hal lain yang bisa dipertimbangkan adalah memperluas definisi universitas terbuka; bukan hanya terbuka untuk mahasiswa, tetapi juga untuk dosen dan akademisi di luar universitas. Ambil kuliah jauh I Made Andi Arsana, dosen geodesi dan geomatika UGM di Papua sebagai contoh[6]; Kuliah jarak jauh ini tidak dilakukan dari kampus UGM di Yogyakarta, melainkan dari University of Wollonggong, dimana beliau sedang menempuh PhD; Yang menarik, kuliah ini bukan dilaksanakan atas kapasitas beliau sebagai dosen, melainkan sebagai seorang diaspora biasa; persiapan yang dilakukan pun bukan betul-betul resmi, beliau hanya menerima pesan via Facebook dan mengiyakannya.

Poster kuliah jarak jauh Made Andi Arsana[6], seijin penulis. 

Mungkin contoh tadi kurang akurat, karena kuliah ini adalah kuliah jarak jauh (distance learning) bukan model pendidikan terbuka. Tetapi yang ditekankan disini bukan kuliahnya, melainkan semangat beliau berbagi ilmu meski diluar kapasitasnya sebagai dosen. Bayangkan 160.000 dosen dan jutaan akademisi Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri turun tangan dan merancang konten pendidikan terbuka; Bayangkan pendidikan tinggi yang di-crowdsource seluruh alumninya.

Indonesia sebenarnya memiliki akademisi yang jumlahnya cukup banyak; mungkin tidak semua mampu berbagi ilmu dengan baik, tetapi dengan platform yang baik dan semangat “mendidik adalah tanggung jawab setiap orang yang terdidik”; gagasan ini sangat mungkin dilakukan.

Jika di tahun 1908 Budi Utomo berdiri untuk mengajak para akademisi untuk berjuang memerdekakan Indonesia, mungkin inilah saatnya  memanggil kembali mereka untuk mewujudkan janji kemerdekaan kita -mencerdaskan kehidupan bangsa.   

Tentu banyak yang harus dikerjakan untuk melaksanakan gagasan ini; Membangun model pendidikan yang terbuka di kedua sisi -dosen dan mahasiswa, bukan hal yang mudah. Tetapi bukankah perjalanan yang paling panjang sekalipun dimulai dengan langkah kecil? Adakah yang terlalu sulit dilakukan untuk mewujudkan janji kemerdekaan bangsa?

Mari buka pendidikan tinggi kita untuk semua.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-30. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Referensi

[1] Statistik Pendidikan BPS http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=1

[2] Angka Partisipasi Pendidikan Tinggi Masih Rendah (Kompas) http://edukasi.kompas.com/read/2009/08/27/20423527/Angka.Partisipasi.Pendidikan.Tinggi.Masih.Rendah

[3] Tian Belawati. Perkembangan Pemikiran Tentang Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. http://lppm.ut.ac.id/pdffiles/1_PerkembanganPemikirantentangPendidikanTerbuka&JarakJauh_tian.pdf

[4] The Year of the MOOC. http://www.nytimes.com/2012/11/04/education/edlife/massive-open-online-courses-are-multiplying-at-a-rapid-pace.html

[5] Menkominfo: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa? http://tekno.kompas.com/read/2014/01/30/1512510/menkominfo.kalau.internetnya.cepat.mau.dipakai.buat.apa

[6] Sekelumit Ilmu Untuk Papua http://madeandi.com/2013/05/31/sekelumit-ilmu-untuk-papua/

Poster blog competition dies ut 30

The understanding, like the eye, whilst it makes us see and perceive all other things, takes no notice of itself; and it requires an art and pains to set it at a distance and make it its own object.

John Locke, born on this day in 1632, on knowledge and the folly of our borrowed opinions (via we-are-star-stuff)

(Source: explore-blog)

http://kuntawiaji.tumblr.com/post/96138217615 

kuntawiaji:

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, sudah berapa usia kita saat ini? Lalu, sudah berapa usia kita yang dicuri oleh waktu? Tahukah kamu bagaimana waktu mencuri usia manusia? Waktu mencuri usia manusia melalui angan-angan akan hari esok sehingga kita melupakan hari ini, terus berulang setiap…

Saya nggak punya path, tapi di situs path ada yang menarik; Katanya rata-rata orang punya 5 teman ter-baik, 15 teman baik, 50 teman dekat dan keluarga, dan 150 teman.

Setelah saya hitung-hitung rasanya saya nggak punya teman sebanyak itu; dan saya bingung menggolongkan yang mana ke kategori mana. Seberapa sering saya harus main monopoli dengan orang untuk bisa digolongkan sebagai teman dekat? Seberapa sensitif isu yang dibicarakan seorang best friend? Seberapa sering saya harus bertemu atau di-sms/line untuk bisa bilang seseorang itu teman dekat?

I’m suck at making friends. 

Kadang saya bertanya tanya; bagaimana caranya saya tidak tahu teman baik (semoga bukan salah kategori) saya baru jadian, atau baru putus dan saya samasekali nggak tahu. Bagaimana caranya saya bisa kenalan dua kali dengan orang yang sama. Mungkin mereka jarang bercerita karena saya juga nggak pernah bercerita; mungkin mereka nggak menyapa karena saya juga membisu.

Maybe you’re my best friend, tumblr.

Mungkin saya perlu belajar berteman. :) 

On Passion

If there’s anything I learned from powerful figures like Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Rene Suhardono, and even Bill Gates -it’s their enormous passion on a specific cause. Look at the way Ridwan Kamil talked about creating a livable city, or how Anies gave a long speech on education and politics. Watch how Rene talk about education, or how Bill Gates brought mosquitoes to a conference room to talk about malaria. They’re somehow obsessed -in a good way, to their cause.

I believe a cause is essential in life. At the end of my life, I want to be able to say that I believe in something and I fought for it. Sadly, I haven’t found it yet.

A cause can be anything; none is too small or too large to fight for. Maybe it’s education, since our fellow Indonesian in remote places still lack access to education; or our primary health service, cause in 2019 it will be the foundation of our nation’s safety net (BPJS). It could be politics, climate change, science education, medical education, UKDI, culture, anything.

There are so many things in this world that desperately need attention -your attention.

Look out there, search for a cause with me.

I haven’t read much, but there’s something I want to share with you, dear reader, if you’re even exist. Check this out if you have the time; and believe me, it’s worth it.

  1. Indonesia Mengajar (indonesiamengajar.org) is an organization which essentially do two things; giving a role model to our fellow Indonesian in remote places, and prepare our next leaders. Both was done by sending our best and brightest to remote places and teach in an elementary school for a year. Don’t tell me that’s not awesome.
  2. TED (ted.com) is a conference held every year (CMIIW) for people with great ideas. Watch Temple Grandin’s view on autism, Bill Gates on malaria, or Enrique Penalosa’s talk on public transportantion. You’ll be surprised.
  3. Turun Tangan (turuntangan.org) is really interesting if you want to know more about our next (hopefully) president candidate, Anies Baswedan. 
Menulis itu merapikan pikiran

Blog orang

Open Fortress

A foreign writer once found a weird, yet surprisingly accurate phrase to describe Bali: an open fortress. 

Bali is famous of its culture and traditions. Or not, since all people talk about these days are resorts, bars, booze, pubs, clubs et cetera; no one talks about kamasan, janger, barong, or jauk anymore.

But for the sake of this post, let’s assume that it is, or was.

Bali is one of few places in which religion and traditions was so closely related; so that distinguishing them is almost impossible. Balinese (at least most of them) are really proud of its traditions, and they desperately try to hold on to it. In the 2000s, a Balinese press even launched a campaign to preserve the Balinese culture, and its catchphrase -Ajeg Bali, has been a trend ever since.  

But at the same time, Bali is a tourist destination. Maybe even a good one. But with tourist, there’s people; with so many people, there’s interaction,  and with interaction, there’s assimilation. It’s impossible -in my opinion, to host an island for millions of visitor a year without assimilating with their culture.

And that’s it. Bali is a fortress built to preserve and nurture its culture against the big bad world; while at the same time opening its doors wide to the so-called ‘bad influence’. 

An open fortress.

Maybe one day people will face the tough call; to shut the door completely or to tear down the fortress. Which one will you choose?    

The Lone Hike - Gunung Catur (2096 mdpl)

Gunung ini sebenarnya tiap hari saya lihat kalau diam di rumah; Tiap pagi meninabobokan saya dengan menghalangi sinar matahari dan berbisik ‘masih malam nak, tidurlah lagi’ . Dua puluh tahun lebih saya tinggal di rumah ini dan belum pernah sebelumnya saya artikan bisikan ini sebagai sebuah tantangan.

This is my first hike, and I hike alone.

Ada dua rute untuk mencapai puncak Gunung Catur, (1) dari selatan di pinggir danau Beratan dan (2) dari timur di Pura Pucak Tinggan di Kabupaten Badung. Karena lebih dekat dan (katanya) lebih landai, saya pilih jalur pertama; walaupun ternyata jalur ini malah lebih sulit karena tidak berisi tangga dan kurang terurus. Pada 90 menit pertama pendakian masih bisa dinikmati, karena jalurnya masih landai; walaupun celana dan jaket saya basah terkena embun.

Satu jam terakhir pendakian adalah pendakian yang sebenarnya; jalurnya menanjak, licin, dan penuh akar pohon. Setiap kali saya berhasil melewati tanjakan yang tajam, saya takut sendiri karena membayangkan bagaimana caranya turun nanti. Tidak ada penanda ketinggian yang bisa dibaca; praktis saya tidak tahu seberapa tinggi posisi saya dan seberapa jauh saya dari puncak. Saya hanya berbekal dua botol air minum, dan botol pertama sudah habis selama 90 menit tadi; sementara puncak gunung ini rasanya masih jauh sekali.

Selama pendakian, saya benar-benar seorang diri. Saya melihat beberapa jejak yang kelihatannya masih baru, dan mengira ada orang yang sudah berangkat sebelum saya. Saya berharap bertemu mereka di jalan untuk meminta air minum dan menanyakan seberapa jauh puncaknya; tapi tidak ada satu orangpun yang saya temui. Beberapa kali saya berhenti dan ingin kembali turun, karena air yang hanya tersisa satu botol, puncak yang rasanya masih sangat jauh, dan jalur yang mengerikan. Dalam hati, saya menyesal berangkat sendiri.

Saya benar-benar putus asa dan ingin kembali turun; saya memutuskan akan turun jika (1) air di botol kedua sudah habis seperempat; atau (2) bertemu pendaki lain yang mengatakan puncaknya masih jauh. Tetapi di sisi lain saya takut turun sendiri, karena jalur yang sulit dan licin. Saya masih bisa melangkah, tetapi teknisnya saya terjebak.

Have I told you I’ve got a really special treat?

Saya tiba-tiba mendengar suara orang di semak-semak; ternyata mereka sedang meboros (berburu) kijang. Seumur hidup saya belum pernah melihat kijang, apalagi orang meboros. Saya menanyakan masih seberapa jauh puncaknya, dan beliau menjawab: “Lima menit!”.

Dan benar, lima menit kemudian saya sampai di puncak, Pura Pucak Mangu.

Orang di desa saya menyebutnya Pura Pucak Pengelengan, karena konon ada keturunan Raja Mengwi yang mendaki gunung ini; dan di puncak beliau disuruh ngeleng (menggeleng) untuk melihat daerah yang akan menjadi kekuasaan beliau; wilayah Danau Beratan di sebelah barat dan wilayah Kabupaten Badung di sebelah timur. Ibukota Kabupaten Badung (Mangupura) juga sepertinya dinamai berdasarkan puncak gunung ini.

Di perjalanan turun, saya kembali bertemu dengan bapak-bapak pemburu tadi. Saya “disandera” karena jalur pendakian melewati wilayah perburuan mereka; dan kalau saya turun, kijangnya bisa lari karena saya berisik. Bapak-bapak ini ternyata mendaki dari Pura Pucak Tinggan dengan anjing-anjing mereka (Lalu jejak kaki tadi punya siapa?). Saya ragu anjing-anjing mereka bisa berburu, karena kurus-kurus dan masih kecil (Saya ingat dengan cerita Pan Balang Tamak dengan anjingnya); Tetapi nyatanya mereka berhasil. Harusnya anjing ini diberi nama baru: deer retriever

I am a deer retriever, and I do retrieve deer.

Overall, pendakian pertama saya ini sangat berkesan; persis seperti review yang ditulis seorang turis pendaki; gruesome but exciting.

This is my first hike, and I hike alone no more.

Tentang Tembakau dan Ebola

Per hari ini, korban meninggal wabah ebola di tiga negara -Liberia, Sierra Leone, dan Guinea, telah mencapai 932 orang. Setelah Sierra Leone beberapa hari yang lalu, kali ini Liberia juga menyatakan bahwa wabah ebola ini merupakan kegawatan tingkat nasional. 

Berita baiknya, terapi eksperimental untuk ebola yang dirintis perusahaan bioteknologi dari US menunjukkan respon yang baik. ZMapp -nama terapi eksperimental ini, diujikan pada dua orang dokter yang baru saja diterbangkan kembali ke US karena terjangkit ebola saat bertugas di Afrika.

Yang menarik adalah “bahan” yang digunakan untuk membuat terapi ini: tembakau. Beberapa berita berbahasa Indonesia juga banyak memberitakan soal ini; Tempo menulis “ Tembakau Dapat Menangkal Ebola”, “Tembakau, Harapan Baru dalam Perang Melawan Ebola" (metrotvnews.com), " Obat Berbahan Tembakau Dikembangkan untuk Tangani Ebola" (detik).

Sebut saya cerewet, tak apa, tetapi judul berita yang seperti ini kurang enak dibaca -istilah keren-nya misleading; Karena nyatanya tembakau bukan digunakan sebagai “bahan” dalam terapi ini, melainkan sebagai vektor (cmiiw).

Terapi ini menggunakan prinsip imunisasi pasif dengan antibodi monoklonal terhadap ebola. Antibodi ini diproduksi dengan menyisipkan kode genetik pada daun tembakau; kurang lebih seperti menyisipkan kode genetik insulin pada E. coli untuk menghasilkan insulin rekombinan. Antibodi inilah yang nantinya diekstrak dari daun tembakau tersebut dan digunakan dalam ZMapp.

Jadi menurut saya, terapi ini bukan berbahan tembakau; melainkan menggunakan tembakau dalam proses pembuatannya. Tidak ada yang bilang E. Coli adalah terapi untuk diabetes kan? Terapi diabetes adalah insulin rekombinan-nya.

Mungkin ada yang bilang bahwa sedikit perbedaan dalam tata bahasa ini tidak ada artinya; toh sama-sama menggunakan tembakau.Tetapi judul seperti ini bisa membingungkan bagi mereka yang awam soal bioteknologi. Mereka yang buta soal kode genetik, antibodi monoklonal, dan GMO (Genetically Modified Organism) bisa saja menganggap bahwa semua tembakau bisa mengobati ebola setelah membaca berita ini.

Mungkin saya mengada-ada, tetapi coba bayangkan jika ada pasien ebola yang membaca berita ini, kemudian menolak diterapi secara medis dan hanya mau minum jus tembakau dengan alasan; “kemarin di tempo dibilang tembakau bisa menangkal ebola!”

Choose your words wisely dear sir, for not all people understand it like you do.  

Saya baru tahu

Saya baru tahu -walaupun sudah tahu namanya dari SD, bahwa Max Havelaar itu sebuah novel. Saya baru tahu bahwa Douwes Dekker -yang namanya juga saya kenal dari SD, pernah menjadi asisten residen (semacam perwakilan Belanda di tingkat kabupaten) di Indonesia.

Saya baru tahu bahwa sebenarnya di Belanda sana banyak yang tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di daerah jajahannya; semua laporan yang ‘jelek’ dikubur dalam-dalam dibawah laporan fiktif. Saya baru tahu mental abs (asal bapak senang) sudah ada sejak jaman Belanda. 

Saya baru tahu bahwa sebagian penderitaan masyarakat disebabkan oleh pribumi sendiri -para (maaf) adipati, puri, etc. Saya baru tahu bahwa ada pribumi yang -atas nama Belanda- mengambil harta benda penduduknya begitu saja. Saya baru tahu bahwa ada pemimpin pribumi yang secara ilegal menyuruh warganya bekerja paksa.

Saya baru tahu bahwa sejarah dapat dengan mudahnya diputar dengan pena di tangan sang pemenang. Saya baru tahu bahwa sejarah dengan mudahnya menempatkan Belanda sebagai tokoh antagonis utama, sementara karakter jahat lain lepas dari tuduhan. Saya baru tahu bahwa banyak yang saya tidak tahu.

Jangan bohongi saya lagi. 

Apa lagi yang saya tidak tahu?  

More Information