Inliers

ˈinˌlīərs [noun] Older rock formation isolated among new rocks.

On Truth and Happiness

Slartibartfast:

Perhaps I'm old and tired, but I think that the chances of finding out what's actually going on are so absurdly remote that the only thing to do is to say, "Hang the sense of it," and keep yourself busy. I'd much rather be happy than right any day.

Arthur Dent:

And are you?

Slartibartfast:

Ah, no.

“Tepat di saat hari buruk menyerang, ada banyak hari baik yang menunggu giliran.”

—   (via palawija)

“We’ve always defined ourselves by the ability to overcome the impossible. And we count these moments. These moments when we dare to aim higher, to break barriers, to reach for the stars, to make the unknown known. We count these moments as our proudest achievements. But we lost all that. Or perhaps we’ve just forgotten that we are still pioneers. And we’ve barely begun. And that our greatest accomplishments cannot be behind us, because our destiny lies above us.”

—   Interstellar

Pintar(?)

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca tulisan bapak Rhenald Kasali di Kompas. Judulnya provokatif: Mengapa Anak yang Pintar di Sekolah Bisa Alami Kesulitan Ekonomi?

Sebagai mantan anak yang sering disebut *ehm* pintar, saya penasaran. Saya tidak percaya. Tetapi menurut bapak satu ini, fenomena ini betul-betul terjadi. Banyak mantan bintang kelas yang karier akademisnya kandas di bangku kuliah karena gagal menyelesaikan skripsi, banyak pula yang impiannya kandas di tahap wawancara.

Reward yang berlebihan dan kurangnya challenge dari orang tuadisebut-sebut sebagai salah satu penyebab fenomena ini. Anak dengan prestasi akademis yang baik cenderung dimanjakan dan ‘dimudahkan’. Ketika prestasi sang anak menurun sedikit saja, orang tua merekalah yang akan panik dan buru-buru mencari guru les privat. Orang tua ingin anaknya fokus belajar dan mengambil alih segala permasalahan lain yang dihadapi sang anak. Istilah beliau: merampas kesulitan. 

Beliau juga menulis bahwa segala macam kemudahan yang diterima seorang anak pintar akan hilang selepas bangku SMA. Semua kemudahan yang diterima anak ‘pintar’ di bangku pendidikan dasar adalah kemudahan subyektif. Dia benar karena dia pintar, bukan dia pintar karena dia benar.

Sementara di bangku kuliah berbalik 180 derajat. Tidak banyak lagi dosen yang menilai ‘pintar’ secara subyektif; tidak banyak yang kenal dan mengerti mahasiswanya. Mantan anak ‘pintar’ tentu harus beradaptasi dengan hal ini. Saya sendiri pernah menulis paper dengan benar-benar sepenuh hati, saya yakin apa yang sudah saya tulis adalah yang terbaik yang bisa saya buat. Kemudian sang penguji bertanya singkat “Buat apa kamu buat judul seperti ini, ini kasusnya sedikit?” 

Transisi siswa-mahasiswa-kerja akan sangat berat bagi para mantan anak ‘pintar’. Tidak ada lagi predikat ‘pintar’ memudahkan mereka mengerjakan tugas. Tidak akan ada lagi orang dewasa yang akan mengambilalih kesulitan mereka.

Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

Rhenald Kasali

Ice Cream

I love ice cream, I always do. But somehow in my childhood I never got much of them. I broke my teeth as a child, and it’s painful every time I ate ice cream. But that’s not the only reason.

An ice cream may worth a kilogram of rice, or several eggs, or a whole lot of vegetables. So my mother decided that rice was more important than ice cream, and I understood that perfectly.

Today I met two little boys on my way home, it’s midnight, and they’re selling newspaper. And suddenly I have this urge to buy them ice cream. I believe that they may have the same ‘ice cream/rice paradox’ with me, or maybe even worse. And so I did buy them one.

I never got their names. I’m too overwhelmed to talk to them. Maybe one day I will.  

“I consider that a man’s brain originally is like a little empty attic, and you have to stock it with such furniture as you choose. A fool takes in all the lumber of every sort that he comes across, so that the knowledge which might be useful to him gets crowded out, or at best is jumbled up with a lot of other things, so that he has a difficulty in laying his hands upon it. Now the skillful workman is very careful indeed as to what he takes into his brain-attic. He will have nothing but the tools which may help him in doing his work, but of these he has a large assortment, and all in the most perfect order. It is a mistake to think that that little room has elastic walls and can distend to any extent. Depend upon it there comes a time when for every addition of knowledge you forget something that you knew before. It is of the highest importance, therefore, not to have useless facts elbowing out the useful ones.”

—   Sir Arthur Conan Doyle - A Study In Scarlet
Jero Ketut

Jero Ketut

Well, hello beautiful^^

Bill Gates, everybody.

Q :

Do you never party?

A :

Uh, you know, I sit and talk to people. I talk about malaria and tuberculosis. For people like that, I am a fun guy.

Pedestrian

Kadang saya suka berjalan kaki. Alasan pertamanya tentu saya malu pada BMI saya. Tetapi disamping itu, jalan kaki juga memiliki kesan yang berbeda dibanding mode transportasi lain. Berjalan pelan itu kadang memberikan kesempatan untuk menikmati perjalanan itu sendiri. Banyak hal-hal kecil yang kadang luput dari perhatian kita saat berkendara, tetapi nampak jelas ketika kita berjalan kaki. 

Akan tetapi, saat ini berjalan kaki nampaknya tidak lagi dianggap sebagai mode transportasi. Ketika orang bicara transportasi, pokok bahasannya kurang lebih tentang mobil, motor, busway, MRT dan sebagainya; Trotoar tak banyak disebut.

Trotoar saat ini bukan lagi hak pejalan kaki. Kadang penuh pedagang kaki lima; Kadang diinvasi pengendara motor; Kadang bahkan sama sekali tak ada.

Belum lagi ketika harus menyeberang jalan. Kadang jalan di kota-kota besar (terutama jalan satu arah) dirancang sedemikian rupa sehingga tidak ada yang menghambat laju kendaraan di dalamnya. Mungkin pejalan kaki adalah salah satu hal yang dianggap sebagai penghambat laju kendaraan ini, sehingga seringkali zebra cross yang ada tidak dilengkapi traffic light dan mustahil dilewati karena kendaraan yang melaju terlalu kencang.

Pemerintah juga mungkin berada di posisi yang sulit dalam hal ini. Buat apa menyediakan trotoar ketika warganya memang enggan berjalan kaki? Dan ketika ada warga yang benar-benar ingin berjalan kaki; Bagaimana saya bisa berjalan kaki kalau trotoarnya saja tak ada? Continuum..

Trotoar dan pejalan kaki kini hanyalah salah satu penanda rendahnya perhatian pemerintah dan masyarakat sendiri terhadap ruang publik. Contoh lain adalah taman-taman kota. Banyak taman kota yang dirancang apik secara estetik, tetapi memprihatinkan dalam hal interaksi publiknya. Apa artinya membuat air mancur dan patung yang menawan ketika tidak ada tempat untuk sekedar duduk dan bercengkrama? 

Masyarakat yang sehat adalah yang banyak interaksinya di ruang publik, bukan terbatas di ruang privat

Ridwan Kamil