Inliers

A boy and his box, off to see the universe.

Stuff  Writings  Shots  

The Lone Hike - Gunung Catur (2096 mdpl)

Gunung ini sebenarnya tiap hari saya lihat kalau diam di rumah; Tiap pagi meninabobokan saya dengan menghalangi sinar matahari dan berbisik ‘masih malam nak, tidurlah lagi’ . Dua puluh tahun lebih saya tinggal di rumah ini dan belum pernah sebelumnya saya artikan bisikan ini sebagai sebuah tantangan.

This is my first hike, and I hike alone.

Ada dua rute untuk mencapai puncak Gunung Catur, (1) dari selatan di pinggir danau Beratan dan (2) dari timur di Pura Pucak Tinggan di Kabupaten Badung. Karena lebih dekat dan (katanya) lebih landai, saya pilih jalur pertama; walaupun ternyata jalur ini malah lebih sulit karena tidak berisi tangga dan kurang terurus. Pada 90 menit pertama pendakian masih bisa dinikmati, karena jalurnya masih landai; walaupun celana dan jaket saya basah terkena embun.

Satu jam terakhir pendakian adalah pendakian yang sebenarnya; jalurnya menanjak, licin, dan penuh akar pohon. Setiap kali saya berhasil melewati tanjakan yang tajam, saya takut sendiri karena membayangkan bagaimana caranya turun nanti. Tidak ada penanda ketinggian yang bisa dibaca; praktis saya tidak tahu seberapa tinggi posisi saya dan seberapa jauh saya dari puncak. Saya hanya berbekal dua botol air minum, dan botol pertama sudah habis selama 90 menit tadi; sementara puncak gunung ini rasanya masih jauh sekali.

Selama pendakian, saya benar-benar seorang diri. Saya melihat beberapa jejak yang kelihatannya masih baru, dan mengira ada orang yang sudah berangkat sebelum saya. Saya berharap bertemu mereka di jalan untuk meminta air minum dan menanyakan seberapa jauh puncaknya; tapi tidak ada satu orangpun yang saya temui. Beberapa kali saya berhenti dan ingin kembali turun, karena air yang hanya tersisa satu botol, puncak yang rasanya masih sangat jauh, dan jalur yang mengerikan. Dalam hati, saya menyesal berangkat sendiri.

Saya benar-benar putus asa dan ingin kembali turun; saya memutuskan akan turun jika (1) air di botol kedua sudah habis seperempat; atau (2) bertemu pendaki lain yang mengatakan puncaknya masih jauh. Tetapi di sisi lain saya takut turun sendiri, karena jalur yang sulit dan licin. Saya masih bisa melangkah, tetapi teknisnya saya terjebak.

Have I told you I’ve got a really special treat?

Saya tiba-tiba mendengar suara orang di semak-semak; ternyata mereka sedang meboros (berburu) kijang. Seumur hidup saya belum pernah melihat kijang, apalagi orang meboros. Saya menanyakan masih seberapa jauh puncaknya, dan beliau menjawab: “Lima menit!”.

Dan benar, lima menit kemudian saya sampai di puncak, Pura Pucak Mangu.

Orang di desa saya menyebutnya Pura Pucak Pengelengan, karena konon ada keturunan Raja Mengwi yang mendaki gunung ini; dan di puncak beliau disuruh ngeleng (menggeleng) untuk melihat daerah yang akan menjadi kekuasaan beliau; wilayah Danau Beratan di sebelah barat dan wilayah Kabupaten Badung di sebelah timur. Ibukota Kabupaten Badung (Mangupura) juga sepertinya dinamai berdasarkan puncak gunung ini.

Di perjalanan turun, saya kembali bertemu dengan bapak-bapak pemburu tadi. Saya “disandera” karena jalur pendakian melewati wilayah perburuan mereka; dan kalau saya turun, kijangnya bisa lari karena saya berisik. Bapak-bapak ini ternyata mendaki dari Pura Pucak Tinggan dengan anjing-anjing mereka (Lalu jejak kaki tadi punya siapa?). Saya ragu anjing-anjing mereka bisa berburu, karena kurus-kurus dan masih kecil (Saya ingat dengan cerita Pan Balang Tamak dengan anjingnya); Tetapi nyatanya mereka berhasil. Harusnya anjing ini diberi nama baru: deer retriever

I am a deer retriever, and I do retrieve deer.

Overall, pendakian pertama saya ini sangat berkesan; persis seperti review yang ditulis seorang turis pendaki; gruesome but exciting.

This is my first hike, and I hike alone no more.

Tentang Tembakau dan Ebola

Per hari ini, korban meninggal wabah ebola di tiga negara -Liberia, Sierra Leone, dan Guinea, telah mencapai 932 orang. Setelah Sierra Leone beberapa hari yang lalu, kali ini Liberia juga menyatakan bahwa wabah ebola ini merupakan kegawatan tingkat nasional. 

Berita baiknya, terapi eksperimental untuk ebola yang dirintis perusahaan bioteknologi dari US menunjukkan respon yang baik. ZMapp -nama terapi eksperimental ini, diujikan pada dua orang dokter yang baru saja diterbangkan kembali ke US karena terjangkit ebola saat bertugas di Afrika.

Yang menarik adalah “bahan” yang digunakan untuk membuat terapi ini: tembakau. Beberapa berita berbahasa Indonesia juga banyak memberitakan soal ini; Tempo menulis “ Tembakau Dapat Menangkal Ebola”, “Tembakau, Harapan Baru dalam Perang Melawan Ebola" (metrotvnews.com), " Obat Berbahan Tembakau Dikembangkan untuk Tangani Ebola" (detik).

Sebut saya cerewet, tak apa, tetapi judul berita yang seperti ini kurang enak dibaca -istilah keren-nya misleading; Karena nyatanya tembakau bukan digunakan sebagai “bahan” dalam terapi ini, melainkan sebagai vektor (cmiiw).

Terapi ini menggunakan prinsip imunisasi pasif dengan antibodi monoklonal terhadap ebola. Antibodi ini diproduksi dengan menyisipkan kode genetik pada daun tembakau; kurang lebih seperti menyisipkan kode genetik insulin pada E. coli untuk menghasilkan insulin rekombinan. Antibodi inilah yang nantinya diekstrak dari daun tembakau tersebut dan digunakan dalam ZMapp.

Jadi menurut saya, terapi ini bukan berbahan tembakau; melainkan menggunakan tembakau dalam proses pembuatannya. Tidak ada yang bilang E. Coli adalah terapi untuk diabetes kan? Terapi diabetes adalah insulin rekombinan-nya.

Mungkin ada yang bilang bahwa sedikit perbedaan dalam tata bahasa ini tidak ada artinya; toh sama-sama menggunakan tembakau.Tetapi judul seperti ini bisa membingungkan bagi mereka yang awam soal bioteknologi. Mereka yang buta soal kode genetik, antibodi monoklonal, dan GMO (Genetically Modified Organism) bisa saja menganggap bahwa semua tembakau bisa mengobati ebola setelah membaca berita ini.

Mungkin saya mengada-ada, tetapi coba bayangkan jika ada pasien ebola yang membaca berita ini, kemudian menolak diterapi secara medis dan hanya mau minum jus tembakau dengan alasan; “kemarin di tempo dibilang tembakau bisa menangkal ebola!”

Choose your words wisely dear sir, for not all people understand it like you do.  

Saya baru tahu

Saya baru tahu -walaupun sudah tahu namanya dari SD, bahwa Max Havelaar itu sebuah novel. Saya baru tahu bahwa Douwes Dekker -yang namanya juga saya kenal dari SD, pernah menjadi asisten residen (semacam perwakilan Belanda di tingkat kabupaten) di Indonesia.

Saya baru tahu bahwa sebenarnya di Belanda sana banyak yang tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di daerah jajahannya; semua laporan yang ‘jelek’ dikubur dalam-dalam dibawah laporan fiktif. Saya baru tahu mental abs (asal bapak senang) sudah ada sejak jaman Belanda. 

Saya baru tahu bahwa sebagian penderitaan masyarakat disebabkan oleh pribumi sendiri -para (maaf) adipati, puri, etc. Saya baru tahu bahwa ada pribumi yang -atas nama Belanda- mengambil harta benda penduduknya begitu saja. Saya baru tahu bahwa ada pemimpin pribumi yang secara ilegal menyuruh warganya bekerja paksa.

Saya baru tahu bahwa sejarah dapat dengan mudahnya diputar dengan pena di tangan sang pemenang. Saya baru tahu bahwa sejarah dengan mudahnya menempatkan Belanda sebagai tokoh antagonis utama, sementara karakter jahat lain lepas dari tuduhan. Saya baru tahu bahwa banyak yang saya tidak tahu.

Jangan bohongi saya lagi. 

Apa lagi yang saya tidak tahu?  

Wanderlust in August

What good is a foot without a little walk every once in a while.

Buyan itu terkesan ditelantarkan. Tidak seperti danau Beratan yang dieksploitasi penuh, Buyan tetaplah Buyan. Air danau ini sudah sejak lama menyusut; ada yang bilang ini akibat sedimentasi di tepi danau, saya kurang tahu.

Ada dua kawasan perkemahan di Buyan; yang di pinggir hutan (Buyan I) dan yang di dalam hutan (Buyan II). Dari Buyan I ke Buyan II mungkin cuma perlu 30 menit, tapi bolak-balik saya habis 3 jam karena berhenti disana sini.

Ini pertama kali saya masuk hutan sendirian; lumayan takut kesasar karena nggak tau jalan. Jalannya sebenarnya bisa dilewati motor, tapi saya pilih jalan kaki (how cool is that!). Di Buyan II ternyata ada menara yang harusnya bisa memperlihatkan danau dari atas. Sayang sekali saya takut ketinggian.

A good, cheap, quiet, but rather lonely holiday; 

Mau kemana lagi? 

Distant War

London. September 3, 1939

Neville Chamberlain as the British Prime Minister announced over the radio that Germany under Hitler reject the ultimatum he has offered; and as of that day, England was at war with Germany.

By the time England declared war, Germany has already invaded Poland; And yet nothing happened in England for several months. No land invasion, no naval battle, no blitzkrieg, nothing. London was practically untouched until late 1940s.

The rather long war-but-no-war period was once called a ‘distant war’. A war fought thousands of miles from home. A war some people at home may know nothing about.

Sierra Leone. July 31, 2014.

President Ernest Bai Koroma of Sierra Leone declared a public health emergency following Ebola outbreak on three neighboring countries; Liberia, Guinea, and Sierra Leone.

As of today, 672 was killed in the outbreak; including Dr. Sheik Umar Khan -one of the leading ebola-fighting physician in Liberia. The outbreak was thought to be the largest in recorded history (only 7 outbreak reached more than 100 victim, with the largest before now was Uganda in 2000, claiming 224 dead).

Ebola was caused by Ebola virus (hence the name); a zoonotic disease which was thought to be transmitted by fruit bats. Human can contract the disease simply by eating fruits contaminated by saliva of a fruit bat; or eating carcass of animals killed by the disease.

Ebola manifests as hemorrhagic fever; diarrhea, red eyes, vomiting blood, gastrointestinal bleeding from the mouth or rectum, hemorrhaging from the nose and mouth, and bleeding in the brain that may lead to seizures and delirium. After showing these symptoms, the patient may recover or died from multiple organ failure. The case fatality rate for the current outbreak was 56%; meaning more than half of the people infected with the disease will die.  

No cure or vaccine for Ebola was found yet.        

Maybe its hyperbolic to call an outbreak a war, but it is to me. Ebola was the ‘distant war’. It was fought in the third world, far from the WHO headquarter in Geneva. We know the war was still going on (and we’re losing), and yet we still feel safe and warm in here. 

An outbreak as serious as Ebola is a global concern. We’re lucky that Ebola was not airborne -the entire population may be wiped out in several weeks. But still, a disease carry no passport. It may stood on our doorstep already.

London was ready when the blitz finally came; air-raid warning was installed, bunkers were made, people were trained.

Shouldn’t we prepare too?   

Menanti Leimena Berikutnya

Saya mempertanyakan, Menkes kan dokter, menteri menyebutkan hak asasi dokter, bagaimana hak asasi masyarakat? Kalau sebagai menteri jangan hanya membela dokternya, sekarang kedudukannya sebagai Menkes.

Kalau Ibu lebih berat ke kedokteran, lebih baik ganti saja nama Ibu sebagai Menteri Kedokteran Indonesia

-Ketua YPKKI (Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia) [detik]

Saya yakin Menteri Kesehatan adalah salah satu jabatan yang paling dilematis dalam pemerintahan. Di satu sisi, seorang Menteri Kesehatan (hampir selalu) adalah seorang dokter; yang mana pada sumpahnya berucap “Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan”. Sementara di sisi lain, beliau juga bertanggung jawab atas kesehatan seluruh rakyat Indonesia yang bukan main jumlahnya. Ada kalanya dua sisi ini tak sejalan.

Dalam kasus malpraktik misalnya; Ketika Menkes menyatakan akan memberikan dukungan secara hukum kepada tersangka malpraktik, pernyataan itu terkesan memihak dan melindungi sejawat bagi masyarakat awam. Sementara ketika beliau berusaha melindungi kepentingan masyarakat dengan mengatakan “Kalau mogok, kalian akan saya bunuh pelan-pelan”; giliran rekan sejawat beliau yang menghujat. Rumit bukan?

——

Bicara soal Menkes, ada satu yang fenomenal dan patut dikenang. Namanya Dr. Johannes Leimena; beliau menjabat sebagai menteri kesehatan dalam delapan kabinet, antara tahun 1947-1956. (selama tahun-tahun tersebut kabinet memang kerap jatuh bangun, dan menteri sering diganti, tapi tetap saja, 8 kali bung!) Di tahun 1951, beliau merumuskan “Bandung Plan” atau “Leimena Plan” sebagai model sistem layanan kesehatan di tingkat primer. Gagasan ini kemudian diadopsi WHO, dan sekarang kita kenal dengan nama PUSKESMAS.

Hari ini, gagasan soal pelayanan kesehatan primer telah muncul kembali. Adanya BPJS dan wacana tentang Dokter Layanan Primer (DLP) menunjukkan bahwa layanan kesehatan primer akan menjadi salah satu fokus pengembangan di bidang kesehatan. Dalam beberapa bulan kedepan kita akan mendapat nama-nama calon Menteri Kesehatan periode 2014-2019; Akankah beliau menjadi Leimena berikutnya?    

sky [skī] the region of the atmosphere and outer space seen from the earth.

How come there is a plural noun for sky?

Lampu

Kemarin listrik se-Bali padam selama beberapa jam. Broadcast dan tweet aneh pun muncul; ada yang bilang kabel bawah laut digigit ikan paus; ada yang bilang pembangkit listrik di bom; ada yang bilang “ntar lampunya hidup kotak suara hilang semua”. Banyak yang berkabar, tetapi sedikit yang bisa dipercaya. Berita, humor, satire -semuanya terkumpul di timeline dan kadang susah dibedakan dalam gelap. 

Melihat dalam kegelapan memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Retina manusia terbentuk dari dua jenis sel fotoreseptor -sel batang dan kerucut. Sel kerucut berperan dalam keadaan cerah dan mampu mempersepsikan warna; Sedangkan sel batang berperan dalam situasi low-light, dan menghasilkan gambaran scotopic.Dalam keadaan gelap, praktis hanya sel batang yang bekerja.

Maka dalam kegelapan sesungguhnya kita tetap bisa melihat. Hanya saja, melihat dalam kegelapan berarti memandang dunia dengan hitam-putih.

Dunia dalam hitam-putih bukanlah pemandangan yang indah -kecuali di foto retro. Yang terlihat hanyalah nilai ekstrim dari spektrum warna -putih bersih dan hitam pekat; diantaranya hanya abu-abu. mejikuhibiniu tak lagi ada artinya.

Sayangnya, hitam-putih adalah bagaimana saya (mungkin kita) sehari-hari melihat dunia. Ada yang hitam, ada yang putih. Kalau bukan benar, berarti mutlak salah. Kalau yang satu baik, maka yang lain pasti jahat.

Katakanlah soal Israel-Palestina. Dilihat dalam hitam putih; dengan mudah jari bisa menunjuk. Yang satu hanya mengirim roket, yang satu dengan hujan bom. Yang satu hanya mencederai; yang satu membunuh membabi buta. Semudah itukah? 

Menyerang pemukiman sipil dengan alasan mencari teroris itu memang jelas salah; tetapi apakah itu berarti mereka yang mengirim roket tanpa alasan benar? Apa semua orang yang memerangi kejahatan adalah pahlawan?

Benar dan salah itu subyektif, seperti halnya hitam dan putih. Real world is not that simple. Maka untuk kamu yang masih mudah menuding: coba cek @pln_123; siapa tahu rumahmu mati lampu.       

The Man

I know a man. We’re both into physics. I met him once in high school; I’m not sure he met me though. I met him in a physics Olympiad; in which we both got into the top ten; he got the first place and I got the 10th.

You already see where this is going, didn’t you?   

Yes. I envied him. Very much. We’re in different school; but I think we share the same teacher. My physics teacher often gave private lesson to student from his school, maybe he is of them. Assuming it’s true; then we share the same teacher, studied the same subject, probably read the same books; and yet he’s way smarter than me.

He is still into physics; while I somehow diverted my ship into medicine. I read his blog (Yes I do stalk him) today, and found out that he got a summer program in Europe for free, in one of the places I dreamed to visit. Yet I am here, wasting my time. Procrastinating.

Hello. You don’t know me, you probably never noticed me. You’re the bigger fish in the pond. You’re the thorn in my crown. You’re one of the anchors of my ship. But I need all that; to remind me that I am still a long way from my destination. Thank you in advance.

Maybe one day we’ll meet, and I’ll make sure you know my name.  

We all change, when you think about it. We’re all different people all through our lives. And that’s OK, that’s good, you’ve got to keep moving; So long as you remember all the people that you used to be.

The Eleventh Doctor

More Information