inliers / posted on 23 July 2014

Menanti Leimena Berikutnya

Saya mempertanyakan, Menkes kan dokter, menteri menyebutkan hak asasi dokter, bagaimana hak asasi masyarakat? Kalau sebagai menteri jangan hanya membela dokternya, sekarang kedudukannya sebagai Menkes.

Kalau Ibu lebih berat ke kedokteran, lebih baik ganti saja nama Ibu sebagai Menteri Kedokteran Indonesia

-Ketua YPKKI (Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia) [detik]

Saya yakin Menteri Kesehatan adalah salah satu jabatan yang paling dilematis dalam pemerintahan. Di satu sisi, seorang Menteri Kesehatan (hampir selalu) adalah seorang dokter; yang mana pada sumpahnya berucap “Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan”. Sementara di sisi lain, beliau juga bertanggung jawab atas kesehatan seluruh rakyat Indonesia yang bukan main jumlahnya. Ada kalanya dua sisi ini tak sejalan.

Dalam kasus malpraktik misalnya; Ketika Menkes menyatakan akan memberikan dukungan secara hukum kepada tersangka malpraktik, pernyataan itu terkesan memihak dan melindungi sejawat bagi masyarakat awam. Sementara ketika beliau berusaha melindungi kepentingan masyarakat dengan mengatakan “Kalau mogok, kalian akan saya bunuh pelan-pelan”; giliran rekan sejawat beliau yang menghujat. Rumit bukan?

——

Bicara soal Menkes, ada satu yang fenomenal dan patut dikenang. Namanya Dr. Johannes Leimena; beliau menjabat sebagai menteri kesehatan dalam delapan kabinet, antara tahun 1947-1956. (selama tahun-tahun tersebut kabinet memang kerap jatuh bangun, dan menteri sering diganti, tapi tetap saja, 8 kali bung!) Di tahun 1951, beliau merumuskan “Bandung Plan” atau “Leimena Plan” sebagai model sistem layanan kesehatan di tingkat primer. Gagasan ini kemudian diadopsi WHO, dan sekarang kita kenal dengan nama PUSKESMAS.

Hari ini, gagasan soal pelayanan kesehatan primer telah muncul kembali. Adanya BPJS dan wacana tentang Dokter Layanan Primer (DLP) menunjukkan bahwa layanan kesehatan primer akan menjadi salah satu fokus pengembangan di bidang kesehatan. Dalam beberapa bulan kedepan kita akan mendapat nama-nama calon Menteri Kesehatan periode 2014-2019; Akankah beliau menjadi Leimena berikutnya?    


TAGS: ntsf

inliers / posted on 19 July 2014

sky [skī] the region of the atmosphere and outer space seen from the earth.
How come there is a plural noun for sky?

sky [skī] the region of the atmosphere and outer space seen from the earth.

How come there is a plural noun for sky?


TAGS: pic

inliers / posted on 13 July 2014

Lampu

Kemarin listrik se-Bali padam selama beberapa jam. Broadcast dan tweet aneh pun muncul; ada yang bilang kabel bawah laut digigit ikan paus; ada yang bilang pembangkit listrik di bom; ada yang bilang “ntar lampunya hidup kotak suara hilang semua”. Banyak yang berkabar, tetapi sedikit yang bisa dipercaya. Berita, humor, satire -semuanya terkumpul di timeline dan kadang susah dibedakan dalam gelap. 

Melihat dalam kegelapan memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Retina manusia terbentuk dari dua jenis sel fotoreseptor -sel batang dan kerucut. Sel kerucut berperan dalam keadaan cerah dan mampu mempersepsikan warna; Sedangkan sel batang berperan dalam situasi low-light, dan menghasilkan gambaran scotopic.Dalam keadaan gelap, praktis hanya sel batang yang bekerja.

Maka dalam kegelapan sesungguhnya kita tetap bisa melihat. Hanya saja, melihat dalam kegelapan berarti memandang dunia dengan hitam-putih.

Dunia dalam hitam-putih bukanlah pemandangan yang indah -kecuali di foto retro. Yang terlihat hanyalah nilai ekstrim dari spektrum warna -putih bersih dan hitam pekat; diantaranya hanya abu-abu. mejikuhibiniu tak lagi ada artinya.

Sayangnya, hitam-putih adalah bagaimana saya (mungkin kita) sehari-hari melihat dunia. Ada yang hitam, ada yang putih. Kalau bukan benar, berarti mutlak salah. Kalau yang satu baik, maka yang lain pasti jahat.

Katakanlah soal Israel-Palestina. Dilihat dalam hitam putih; dengan mudah jari bisa menunjuk. Yang satu hanya mengirim roket, yang satu dengan hujan bom. Yang satu hanya mencederai; yang satu membunuh membabi buta. Semudah itukah? 

Menyerang pemukiman sipil dengan alasan mencari teroris itu memang jelas salah; tetapi apakah itu berarti mereka yang mengirim roket tanpa alasan benar? Apa semua orang yang memerangi kejahatan adalah pahlawan?

Benar dan salah itu subyektif, seperti halnya hitam dan putih. Real world is not that simple. Maka untuk kamu yang masih mudah menuding: coba cek @pln_123; siapa tahu rumahmu mati lampu.       


TAGS: ntsf

inliers / posted on 9 July 2014

The Man

I know a man. We’re both into physics. I met him once in high school; I’m not sure he met me though. I met him in a physics Olympiad; in which we both got into the top ten; he got the first place and I got the 10th.

You already see where this is going, didn’t you?   

Yes. I envied him. Very much. We’re in different school; but I think we share the same teacher. My physics teacher often gave private lesson to student from his school, maybe he is of them. Assuming it’s true; then we share the same teacher, studied the same subject, probably read the same books; and yet he’s way smarter than me.

He is still into physics; while I somehow diverted my ship into medicine. I read his blog (Yes I do stalk him) today, and found out that he got a summer program in Europe for free, in one of the places I dreamed to visit. Yet I am here, wasting my time. Procrastinating.

Hello. You don’t know me, you probably never noticed me. You’re the bigger fish in the pond. You’re the thorn in my crown. You’re one of the anchors of my ship. But I need all that; to remind me that I am still a long way from my destination. Thank you in advance.

Maybe one day we’ll meet, and I’ll make sure you know my name.  


inliers / posted on 6 July 2014

Distraction

How long can you be alone in your thoughts -with no phone, no TV, no computer, no book, no distraction whatsoever?

In my case, I won’t even last a minute. 

We’re living in a world of distractions. A recent study published in Science found out that some people prefer physical pain rather than being alone with their thoughts.

The researcher asked the participants to give up their phones (and other distractions) and sit in an empty room for 15 minutes. Nearly half of them said it was uncomfortable.

In the next experiment, the researcher first gave ‘introductory’ electric shock to the participants -for which three quarters of them said they would pay not to be shocked again. And yet when they were placed in an empty room for 15 minutes, some of them (67% of male and 25% of female) were so eager to do something that they shock themselves voluntarily.

What the study show -in my opinion, is how much we rely on distractions just to pass the time. We allocate too much thinking to distractions that we got so little room for our thoughts. No wonder philosophy enthusiasts are scarce these days.

I’m fully aware that I might have the same problem. I spend too much time on the computer screen; reading, looking for funny memes, stalking, writing. I remember once I went to the beach by myself and I can’t even sit still more than 5 minutes. I spend the day wander around with my phone in pursuit of a nice picture when I should have sat down and just enjoy the beach. 

I heard once someone said that carrying a camera while traveling is actually a burden; we spend too much time looking through the diaphragm that we forget looking with our own eyes.

Maybe traveling is better without cameras, and life is better without gadgets.

Maybe.  


TAGS: ntsf

inliers / posted on 3 July 2014

The Apollo Way

Bagaimana caranya memasang filter karbon dioksida berbentuk kotak ke dalam soket berbentuk lingkaran?

Gampang, beli adapter. Atau beli lagi.

Bagaimana caranya memasang filter karbon dioksida berbentuk kotak ke dalam soket berbentuk lingkaran; hanya dengan duct tape, kardus, selang, dan kantong plastik, dalam modul Apollo 13 di atmosfer bulan?

Now yo’re thinking.

Ini kisah nyata, bukan dramatisasi. Apollo 13 seringkali disebut a successful failure karena begitu banyaknya kesalahan teknis yang terjadi; soal soket filter ini hanya salah satu diantaranya. Hebatnya, semua permasalahan yang terjadi bisa diatasi, dan Apollo 13 bisa kembali dengan selamat -walaupun misinya gagal.

How? you might ask.

They definitely used duct tapes; a lot of them. 

Reconstructing the problem.

Yang menarik adalah bagaimana solusi itu didapat. Solusi itu bukan ditemukan sang astronot, tetapi oleh tim mission control di bumi. Mereka merekonstruksi keadaan di dalam Apollo 13 sedetail mungkin dan menyelesaikan semua masalahnya di bumi; sebelum solusi itu akhirnya dikirimkan pada awak Apollo dan dieksekusi. 

Kalau ditelaah, permasalahan yang ditemui astronot Apollo 13 mirip kondisi yang ditemui klinisi sehari-hari. Mereka hanya punya satu kesempatan; dan setiap keputusan yang diambil bisa berimplikasi hidup-mati.

The Apollo way.

Kemampuan merekonstrusi permasalahan -seperti yang ditunjukkan kru Apollo 13, adalah apa yang perlu dilaksanakan dalam pendidikan kedokteran saat ini. SGD (Small Group Discussion) barangkali bisa dibilang salah satu bentuk penerapan konsep ini.

Tetapi SGD (terutama di kampus saya) masih jauh dari sempurna. Dari tahun ke tahun soalnya jarang diganti; Dari situ muncullah kertas-kertas sakti: jawaban kakak kelas. Those things does not help, I’m sorry!

Kadang SGD tak lebih dari drama. Semua pertanyaan dan jawaban sudah tertulis dan tinggal dibaca.

Saya bukan korban, saya pelaku juga. Tetapi di semester akhir seperti ini rasanya kesalahan semacam ini wajib direnungi.

SGD bukan drama, bukan sekedar pura-pura. SGD adalah kita sedang belajar merekonstruksi masalah seperti mission control di Cape Canaveral.

Karena nanti jika tiba waktunya, kita tidak akan seberuntung kru Apollo 13. Mereka terhubung 24 jam dengan mission control yang sedang memecahkan masalah mereka. Sedangkan kita hanya seorang diri, bersama pasien dengan beribu keluhan yang tak bisa dibaca.

Imagine how scary.  


TAGS: ntsf

inliers / posted on 1 July 2014

Kintamani

Kintamani / Cintamani / Cittamani :  ”mutiara pikiran” yang menakjubkan, yang dapat memberi segenap keinginan dan kehendak pemiliknya.

Ibaratnya permasalahan itu seperti sebuah danau, katakanlah Danau Batur. Kita tepat berada di tengah-tengahnya, dengan perahu kecil di bawah dan dayung di tangan. Tugas kita hanya satu: memetakan sang danau.

Saya bukan orang kartografi, saya tidak tahu apa-apa soal peta dan memetakan. Tetapi rasanya mustahil orang bisa memetakan danau dari tengah-tengahnya; ibaratnya orang yang berusaha memecahkan permasalahan dengan terlibat di dalamnya.

Maka tugas itu -memetakan danau, memecahkan masalah; hanya bisa dilakukan dari satu tempat: Kintamani. Hanya dari tempat itu luas danau bisa perkirakan, pinggirannya dipetakan, kecantikannya dinikmati.

Sama seperti sebuah permasalahan; Kadang kita yang terjebak di dalamnya harus beranjak menepi, dan naik ke Kintamani.Kadang kita mesti meninggalkan sang masalah untuk sementara menyepi. Hanya dengan menyepi dan menepi kita bisa melihat permasalahan dengan sejernih-jernihnya.

Maka jauhilah keramaian mereka yang berteriak. Jauhi mereka yang gemar meneriakkan permasalahan tanpa menawarkan solusi. Jangan dengarkan mereka yang hanya bisa memaki dalam kegelapan. Posisikan diri sebagai seorang turis di Kintamani;lihat masalah dalam keheningan, dari kejauhan.

Mungkin apa yang dibilang senior BPM benar adanya

Djika kaoe tidak berdiri di sisi penjelesaian, maka engkaolah sesungguhnya permasalahan.

*nb:

saya ingat tulisan tentang Kintamani di salah satu edisi Balipost minggu. Entah ditulis siapa, entah tahun berapa. Ingatan saya parah. Maka itu saya tuliskan. 

Kapan ke Kintamani?


TAGS: ntsf

inliers / posted on 29 June 2014

Kecewa

Judul hari ini saya pinjam dari tulisan mas Edward Suhardi di blog turuntangan (great piece, check it out).

Hari ini saya benar-benar kecewa. Kenapa? (1) Wifi kampus mati tepat di sesi saling serang, dan (2) Jawaban para cawapres (maaf) masih jauh dari memuaskan.

Saya kecewa karena jawaban bapak-bapak masih terkesan normatif dan dangkal. Jawaban bapak masih berkutat soal anggaran dan perundangan, seakan-akan jika anggaran telah terpenuhi dan peraturan telah disusun maka semua permasalahan usai begitu saja. Saya kecewa karena jawaban bapak soal kualitas guru hanya sebatas sertifikasi, seakan-akan kualitas guru akan meningkat begitu saja ketika kesejahteraannya meningkat. Mohon maaf bapak-bapak, tapi itu baru satu variabel. Yang lain apa kabar?

Bagaimana soal kesenjangan, bagaimana soal pemerataan? Bagaimana soal sarana pembelajaran? Bagaimana soal pengembangan kemampuan guru? Bagaimana soal perpustakaan?

Ah, sudahlah…

Tentang Diaspora

Ada satu pertanyaan moderator yang menarik hari ini, pertanyaannya kurang lebih; Indonesia saat ini memiliki SDM berkualitas yang justru memilih menetap di luar negeri, bagaimana tanggapan bapak? CMIIW

Kalau saya yang menjawab, ada dua case yang akan saya beri. (1) Para pendiri bangsa, dan (2) Idola saya, bapak Ridwan Kamil.

Republik ini juga diperjuangkan para diaspora. Jangan lupakan bahwa Hatta, Sjahrir, dan deretan nama-nama pejuang lain adalah didikan Belanda. Jangan lupa bahwa Indische Vereeniging berdirinya di Belanda. Mereka belajar dan berjuang di negeri orang, tetapi nasionalismenya tidak pernah luntur.

Contoh yang kedua mungkin lebih relevan, kang Ridwan Kamil adalah lulusan ITB yang melanjutkan studinya di Amerika Serikat, dan sempat juga bekerja disana. Beliau saat ini menjabat sebagai Walikota Bandung. Kalau saya boleh tanya sekarang, apa bedanya Hatta, Sjahrir, Habibie, dan Ridwan Kamil dengan mereka yang disebut “tak mau pulang” tadi?

Ada yang bilang bahwa alasan para diaspora enggan kembali ke Indonesia adalah ketiadaan pekerjaan dan fasilitas yang sesuai. Dengan logika seperti itu, artinya Indonesia harus berkembang terlebih dahulu sebelum mereka mau pulang, padahal peran diaspora justru sebagai penggerak perkembangan bangsa.

Ada sisi lain yang harus dieksploitasi dalam permasalahan ini: alasan mereka belajar ke luar negeri. Anies Baswedan pernah bilang bahwa ada dua kualitas yang harus dimiliki generasi muda kita saat ini; World Class Competence dan Grasroot understanding. Atau dengan kata lain: kompetensi tingkat dunia dan pemahaman akan masalah. Inilah yang harus dipahami para diaspora.

Menjawab pertanyaan tadi, perbedaannya mungkin bukan terletak pada fasilitasnya atau keadaan dalam negerinya; Indonesia masih tetap terbelakang dibanding tempat mereka belajar. Yang berbeda adalah alasan mereka berangkat.

Hatta dan Sjahrir tentu sudah bercita-cita Indonesia merdeka sebelum berangkat ke Belanda. Habibie sudah paham kebutuhan Indonesia akan penerbangan sebelum belajar di Jerman. Ridwan Kamil sudah memimpikan Bandung yang juara sebelum pergi ke Amerika.

Meraka yang berangkat dan pulang dengan “kado” perubahan adalah mereka yang (menurut saya) sudah paham permasalahan sebelum beranjak mencari solusi.

Sekali lagi, World Class Competence, Grasroot Understanding. Titik.


TAGS: ntsf